Puluhan Kantor Kementerian di Jakarta Jadi Klaster Covid-19, Bagaimana Pengendaliannya?

General
Admin, September 16, 2020

Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sebaliknya, kasusnya terus meningkat. Sejumlah kluster baru bermunculan. Terbaru, kantor pemerintahan justru menjadi titik kluster baru penyebaran Covid-19. Data Dinas Kesehatan DKI per 18 September 2020 seperti dilansir di situs corona.jakarta.go.id menyebutkan, ada 27 kantor kementerian/lembaga yang menjadi kluster baru Covid-19.

Kantor tersebut adalah, Kementerian Perhubungan Perkeretaapian (1 kasus), Badan Litbangkes Kemenkes (50 kasus), Batlibang Kemenhub (5 kasus), Biro OSDM Kemenaker (1 kasus), Dirjen Imigrasi (21 kasus) Dirjen Polpum Kemendagri (1 kasus), Dukcapil Kemendagri (2I kasus), Istana Wapres (2 kasus), Kantor Pajak Cengkareng (5 kasus), Kantor Pajak Pratama Jakarta (15 kasus), Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakbar (1 kasus) Kantor PPLP Tanjung Priok (88 kasus), Kemenakertrans (24 kasus), Kemendagri (24 kasus), Kemendikbud (25 kasus), Kemenhub Kelautan (3 kasus), Kemenko Parvest (1 kasus), Kemenko PMK (12 kasus), Kemenkop KUKM (2 kasus).

Juru Bicara sekaligus Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito membenarkan kluster kantor pemerintahan kini menjadi sorotan seiring makin meningkatnya jumlah kasus positif.

Ia pun meminta semua pihak baik yang berada di perkantoran maupun perjalanan menuju atau pulang dari kantor tetap mencegah terjadinya penularan Covid-19 agar tidak terjadi korban lain dari penyakit tersebut.

"Publik juga harus mengetahui bahwa makin banyak pejabat yang terkonfirmasi positif dan ini merupakan bentuk transparansi publik dan tidak perlu terjadi stigma negatif kepada para pejabat pulbik," ujarnya, Jumat (18/9/2020).

Wiku menyatakan, virus Covid-19 tidak mengenal jabatan, tidak mengenal jenis kelamin, dan tidak mengenal umur. Pandemi ini bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal waktu.

"Sudah lebih dari lima kepala daerah dan pejabat publik yang meninggal karena Covid-19. Kami turut berbelasungkawa terhadap kejadian ini," ujarnya.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan, terus bermunculannya kluster Covid-19, menunjukkan sumber penularan di tengah masyarakat masih ada.

"Kalau kita lihat secara dalam maka sumber penularan di antara kita masih ada," katanya, Kamis (17/9/2020).

Yurianto menyebut, berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan polymerase chain reaction (PCR), 80 pasien positif Covid-19 tidak memiliki gejala apa pun. Sementara 20 persen lainnya hanya memiliki gejala ringan atau sedang.

Tingginya persentase orang tanpa gejala (OTG) terpapar Covid-19 membuka peluang sumber penularan semakin besar. Sebab, ada kemungkinan masyarakat tidak menyadari dirinya terpapar Covid-19 tapi masih melakukan aktivitas di ruang publik.

"Artinya 80 persen tidak merasa sakit, orang lain tidak merasa melihat dia sakit, ini yang jadi permasalahan," ucapnya.

Guna menutup peluang sumber penularan Covid-19, Yurianto meminta masyarakat patuh menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat harus menggunakan masker dengan benar, menjaga jarak aman minimal satu meter dan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir minimal 20 detik.

"Kalau menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan tidak dilakukan dengan disiplin akan menjadi pintu untuk tertular," kata Yurianto mengakhiri.

ketua Tim Mitigasi PB IDI Adib Khumaidi menyatakan, untuk menghentikan penyebaran dan munculnya kluster-kluster baru dibutuhkan dukungan aktif seluruh elemen masyarakat. Jika tidak, pandemi ini akan susah dikendalikan.

"Dan hal ini, tentunya juga akan berdampak negatif, bukan hanya pada kesehatan, namun juga ekonomi secara berkepanjangan," lanjut Adib, Jumat (18/9/2020).

Adib menyebut jumlah dokter yang berguguran menjadi pekerjaan besar, terlebih lagi proporsional dalam pelayanan kesehatan juga harus tetap berjalan.

Para tenaga kesehatan kini menjadi benteng terakhir dalam penanganan Covid-19.

"Indonesia bahkan belum mencapai puncak pandemi Covid-19 gelombang pertama. Jika hal ini (ketidakdisiplinan protokol kesehatan) terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi episentrum dunia, yang mana akan berdampak semakin buruk pada ekonomi dan kesehatan negara," jelasnya.

Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/4359616/headline-puluhan-kantor-kementerian-di-jakarta-jadi-klaster-covid-19-bagaimana-pengendaliannya

× Apakah ada yang bisa kami bantu?