Terkonfirmasi, PPN Naik Jadi 11% Mulai Besok, Tetap Tenang Jangan Panic Buying.

General
Admin, March 31, 2022

Tarif pajak pertambahan nilai (PPN) bakal naik dari 10% menjadi 11% mulai besok, Jumat 1 April 2022. Kenaikan tarif PPN menjadi 11% akan meningkatkan harga barang dan jasa di tingkat konsumen. Diberitakan sebelumnya, kenaikan tarif PPN 10% menjadi 11% sesuai dengan amanat Undang-Undang tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Tarif PPN sesuai UU HPP menjadi 11% pada 1 April 2022 mendatang. Akibat kenaikan tarif PPN menjadi 11% berpotensi akan meningkatkan harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, kenaikan 1% dari PPN ini masih berada di bawah rata-rata PPN dunia. “Kalau rata-rata PPN di seluruh dunia itu ada di 15%, kalau kita lihat negara OECD dan yang lain-lain, Indonesia ada di 10%. Kita naikkan 11 (persen) dan nanti 12 (persen) pada tahun 2025,” ungkap Menkeu dilansir dari situs resmi Sekretariat Kabinet.

Menkeu memahami jika saat ini perhatian masyarakat dan dunia usaha tengah fokus pada pemulihan ekonomi. Namun, hal ini tidak menghalangi pemerintah untuk membangun pondasi perpajakan yang kuat. Terlebih selama masa pandemi APBN menjadi instrumen yang bekerja luar biasa, sehingga perlu untuk segera disehatkan.

“Jadi kita lihat mana-mana yang masih bisa space-nya di mana Indonesia setara dengan region atau negara-negara OECD atau negara-negara di dunia. Tapi Indonesia tidak berlebih-lebihan,” tandasnya. Menkeu menekankan, pajak merupakan gotong royong dari sisi ekonomi Indonesia dari yang relatif mampu. Hal ini karena pajak yang dikumpulkan akan digunakan kembali kepada masyarakat.

“Kita jelas masih butuh pendidikan yang makin baik, kesehatan yang makin baik, kita butuh bahkan TNI kita yang makin kuat, polisi yang makin hebat supaya kepastian hukum bagus, keamanan kita bagus. Itu semuanya bisa dikerjakan, kita capai, dan kita bangun setahap demi setahap kalau pondasi pajak kuat,” pungkasnya.

Walaupun tarif PPN akan naik menjadi 11%, tetapi tidak kesemua sektor loh, Partners. Inilah sector yang terdampak kenaikan tarif PPN :

  1. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;
  2. Impor Barang Kena Pajak;
  3. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;
  4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;
  5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;
  6. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;
  7. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; dan
  8. Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.

Dan ini dia sektor yang tidak terdampak pada kenaikan PPN :

  1. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan sejenisnya
  2. Uang, emas batangan untuk kepentingan cadangan devisa negara dan surat berharga
  3. Jasa kesenian dan hiburan
  4. Jasa perhotelan
  5. Jasa yang disediakan pemerintah
  6. Jasa penyediaan tempat parkir
  7. Jasa boga atau catering

Mendekati bulan Ramadhan ini, kenaikan PPN 11% pastinya membuat masyarakat panik sehingga melakukan Panic Buying. Hal ini sangat tidak disarankan sebab dapat menyebabkan dampak yang buruk terhadap ekonomi Tanah Air.

Panic buying adalah tindakan membeli sejumlah besar produk yang tidak biasa untuk mengantisipasi atau setelah bencana atau bencana yang dirasakan, atau mengantisipasi kenaikan harga.

Melansir laman Forbes, panic buying atau pembelian karena panik dikaitkan dengan pendapatan yang lebih tinggi, kehadiran anak-anak di rumah tangga, depresi dan kecemasan kematian, dan ketidakpercayaan orang lain atau paranoia.

Panic buying atau penimbunan barang-barang penting jarang dicatat sebelum awal abad ke-20. Ketika flu Spanyol tiba di Inggris segera setelah Perang Dunia Pertama, orang-orang panik dan bergegas membeli kina dan obat-obatan lain yang menyebabkan ancaman kekurangan pada tahun 1918.

Sejak itu, telah diamati berulang kali selama terjadinya banyak krisis, panic buying lebih sering terjadi di negara maju atau industri di mana orang berharap mereka dapat mengakses makanan dan barang-barang penting lainnya dengan mudah di supermarket.

Sebelum pandemi COVID-19, kasus panic buying juga terjadi selama pandemi SARS 2003 di China dan Hong Kong serta menyebabkan kekurangan garam, beras, cuka, minyak sayur, masker, dan obat-obatan untuk waktu yang singkat.

Memilih untuk panic buying atau berbelanja sesuai kebutuhan sepenuhnya ada di tangan konsumen. Namun, ada baiknya untuk tetap menjaga tindakan agar tidak merugikan orang lain. Sebab, dengan panic buying, boleh jadi yang diuntungkan adalah para pemburu rente dan, sebaliknya, orang-orang yang benar-benar membutuhkan yang dirugikan.

Tapi tenang aja Partner Barokah, walaupun PPN naik jadi 11%, Barokah Consulting akan tetap mempertahankan harga yang ekonomis. Jangan lupa juga Barokah Consulting ada promo Ramadhan Barokah, diskon 10% untuk semua layanan. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Sumber :

  1. https://nasional.kontan.co.id/news/ppn-naik-jadi-11-mulai-besok-1-april-2022-harga-barang-jasa-berpotensi-meningkat
  2. https://www.kompas.com/tren/read/2022/03/31/070000465/ppn-11-persen-mulai-berlaku-besok-ini-jenis-barang-dan-jasa-bebas-ppn?page=all
  3. https://tirto.id/apa-itu-panic-buying-yang-terjadi-saat-pandemi-penyebabnya-ghvg

Redaksi : Stephanie Kristanto

× Apakah ada yang bisa kami bantu?